Danang Putra Arifka's

Blog

Buat kamu yang tidak tau (eh tapi lebih baik tidak tau, karena tau pun tetep nggak ngasih kado), iya, aku ulang tahun dong kemarin tanggal 10 juli. Dan, yak... Sepi kayak biasanya wkwkwk

Tapi meski sepi begitu aku tetep seneng, kalau rame malah aku nggak seneng. Sepi itu bagus, sebab kalau  rame aku lebih suka mendengar cerita orang, kalau sepi aku bercerita dengan diriku sendiri.

Tidak ada kue, tidak ada lilin untuk ditiup, tidak ada gegap gempita ramai pesta, tidak ada musik, tidak ada ucapan, tidak ada make a wish. Tulisan inipun dibuat bukan sebagai perayaan, hanya sebagai pengingat bahwa ternyata aku semakin tua wkwkwk

Kita pasti pernah punya cita-cita dimasalalu untuk diwujudkan dimasa depan. Seperti aku, dulu pernah mau jadi pilot, tapi sekarang malah santai begini, duduk diwarung kopi. Ya,  khusnudzon saja, bukan tidak terwujud, mungkin memang belum tercapai saja wkwkwk

Pernah nggak kepikiran begini, sebenarnya masa depan itu kapan sih? Jangan-jangan masa depan itu tidak ada? Bukankah masa depan adalah hari ini? Iya, kan? Hari esok tidak bisa kita sebut sebagai masa depan karena kita tidak tau besok kita masih ada atau tidak. Jadi kesimpulannya apa? Kesimpulannya yaa..... Slow and flow aja!

Jalani aja dirimu yang sekarang. Tidak semua keinginan harus terkabul dengan benar. Beberapa mimpi bahkan butuh materi lebih, sedangkan materi kita yang pas-pasan mana cukup untuk membeli cita-cita kita yang berlebihan? Katanya kalau ada kemauan pasti ada jalan? Iya, sih. 1000:1. Dan jalannya pasti terjal. Sekarang pekerjaan apa sih yang masuknya nggak pake nyogok? Pekerjaan semulia guru aja dibeberapa tempat kadang masih ada yang melakukan praktek demikian.

Intinya, jangan percaya 100% pada cita-citamu, sebab jika suatu saat ketika materimu tidak mampu membeli cita-citamu, kamu auto frustasi. Yakin saja kalau dirimu yang saat ini adalah dirimu yang diinginkan Tuhan ada dibumi.

Next question = apakah kaya itu wajib? Tidak! Tuhan tidak menyuruh kita kaya, Tuhan cuma mau kita beribadah. Kita hidup didunia, jika kita gila akan materi duniawi, apa itu wajar? Wajar! Karena kita diciptakan sebagai manusia. Mengeluh, marah, menyesal dan sifat lain manusia adalah wajar. Sebab jika kita diciptakan sebagai malaikat pasti tidak ada rasa lapar, pusing, kurang darah bahkan darah tinggi.

Pesanku cuma singkat, meskipun disampaikan dengan tulisan yang lumayan panjang dan bertele-tele. Inti dari semua ini adalah, cintai dirimu yang sekarang itu, meskipun ia sudah melewatkan masa-masa terbaiknya, meskipun ia tidak mencapai cita-citanya, meskipun ia pernah sangat bodoh dimasalalu. Tapi itulah dirimu, bentuk pengejawantahan dari apa yang Tuhan  telah tuliskan.

Love you all. Mwah :*


Ada yang bagus dimatamu, yang tidak jadi terlihat bagus jika kita tidak berjarak. Aku rasa tidak terlalu buruk untuk bilang rindu, meski mengatakannya itu mudah, dihati terasa payah. Hal-hal yang memaksa kita untuk lebih sabar menghadapi ego sendiri, menjadi salah satu hal paling berharga yang aku dapat mempelajarinya bersamamu.

Bukankah sesuatu itu menjadi biasa saat saling berdekatan, menjadi sangat terasa saat berjauhan? Bukankah lebih nikmat mengatakan rindu dengan hati yang bergemuruh daripada menyampaikan rindu dengan tertawa-tawa. Kepercayaan dan komunikasi adalah dua hal yang memungkinkan kita untuk sering bergesekan, namun kita akan mampu mengatasi segalanya, sebab aku yakin yang jauh itu hanya raga, bukan hati kita.

Aku selalu menempatkanmu dikepalaku sebagai ikat penyemangat. Kalender jadi hitungan jarak lintasan kita berlari. Januari, februari, maret sampai desember hanya nama bulan, bukan bentang rintang yang siap menjegal kaki kita. Seberapa jauh dan lamanya, pada akhirnya kita akan sampai jua pada garis temu. Hanya aku, kamu dan Tuhan yang tau kapan itu.

Bukankah rindu yang hebat adalah rindu yang akhirnya menyatu? baik itu menyatu tepat waktu  ataupun sedikit terlambat. Bukankah seseorang yang menyederhanakan makna cinta hanya sekadar peluk dan cium mesra itu keterlaluan? Aku mencintaimu lebih dari itu, lebih dari sekedar curiga dan cemburu. Lebih dari dinginnya tubuhku yang kupeluk sendiri. Lebih dari menutup telingaku dari berita tidak benar tentangmu. Lebih dari semuanya, aku mencintaimu dan segenap jarak antara kita.


Duduk disampingmu, didepan mikropon yang menyala, diantara menunggu jeda iklan dan lagu, memerhatikan tanganmu menggeser mouse, mencuri pandang matamu yang fokus pada layar komputer. Disitu aku merasakan aku ada. Atau, tidak! lebih dari itu, aku ingin benar-benar ada didadamu.

Apakah kamu baik-baik saja hari ini? Semoga iya, kamu baik-baik saja. Aku tidak tau sehari-harimu, aku tidak tau kamu bangun tidur jam 9 atau 10? Aku tidak tau dimana saja tempat biasa kamu ngopi? Aku tidak tau senjamu dilewati dengan siapa? Tapi aku beruntung ada disisimu malam ini, meskipun hanya sebagai partner kerja.

"Balik lagi disaluran 106,5  frekwensi kesayangan kalian, tentunya dimalam kali ini bersama Adi rasa stroberi dan juga Sabrina Larasati yang akan menemani malam minggu kalian..."

"Yak betul sekali, Adi. Tentunya tidak perlu khawatir malam minggu kalian jadi garing karena tentu saja kita akan menemani sekaligus memeluk hati-hati kalian yang rindu akan sebuah pelukan..."

Diwaktu menunggu kamu asyik bicara, disaat bersamaan sebenarnya kepalaku disergap ribuan tanya. Sudahkah ada yang mengisi hatimu? Adakah seseorang yang kau harap pesan singkatnya sesegera mungkin hadir memenuhi ruang chattingmu? Atau lebih gamblangnya, bolehkah aku mencintaimu? Aku harap itu tersampaikan padamu.

"Tuuuiinnggg"

Sebuah pesan singkat masuk di whatsappmu. Kamu terlihat membuka dan segera membalasnya. Kembali kepalaku dipenuhi ribuan curiga. Siapa dia? Ah, sial aku tidak punya keberanian untuk bertanya, apalagi memegang handphonemu. Ku mohon, semoga itu bukan dari seorang perempuan. Ataupun tidak apa-apa dari perempuan asal itu dari ibumu. Tidak, tidak. Aku harus tetap tenang.

Aku tidak boleh mudah marah. Bukankah diam seperti ini adalah pilihanku sendiri? Padahal disaat yang sama sah saja jika aku mengungkapkan perasaanku padamu. Bukan karena tidak berani, aku hanya tidak siap dengan penolakan. Sebab perhatian darimu masih samar aku rasakan. Sebenarnya seberapa parah rasanya ditolak? Dan jangan-jangan kamu adalah tipe orang yang memang susah memberikan perhatian terhadap seseorang yang kamu cintai?

Bimbang itu wajar, kan? Aku tidak gengsi, tapi harus aku katakan sekali lagi, aku tidak siap untuk ditolak. Meskipun harus pula aku akui, bahwa ditolak adalah resiko dalam mencintai. Apa 'kode'ku kurang keras? Atau aba-abaku masih terlalu susah untuk kamu mengerti? Seharusnya kamu cepat sadar. Kamu pikir kopi yang kamu minum setiap kali on air, aku buat dengan alasan apa? Cinta. Kamu pikir aku hadir 30 menit sebelum jam on air, demi apa? Demi bisa bicara berlama-lama denganmu. Kamu pikir saat aku ngajakin chattingan bahas tentang tema apa yang bagusnya kita bawa buat siaran besok, itu buat apa? Ya, karena aku suka denganmu. Tidak ada alasan lain selain aku ingin dekat.

Kamu harusnya tau itu, kan? Iya, kan? Kenapa belum peka-peka juga?

Waktu dipasar hewan aku sempat memperkenalkan diri, tapi sebatas namaku saja. Jadi, jabat tanganku! Namaku Bima Adi Damar. Tinggi 170 cm, berat 60 kg, dan tidak pernah KO. Karena pada dasarnya aku adalah lelaki cemen yang lebih suka menghindari perkelahian, karena apa sih manfaatnya berantem gitu? Tidak ada kan. Nah makanya jangan berantem ya! Hehehe

Aku rasa aku punya kepribadian ganda atau semacam alter ego dalam diriku. Aku yang pertama: bebas merokok sesuka-suka. Aku yang kedua: nggak mau merokok sama sekali, bahkan kalau dipaksa-paksa ditraktir sekalipun tetap tidak mau. Perubahan itu terjadi jika aku lagi sama Nawang. Hehehe dia tidak suka cowok yang merokok. Dari karena aku mencintainya, aku tidak sekalipun mau merokok didepannya.

Suatu hari aku pernah kena marah oleh sebab Nawang lihat aku merokok bareng-bareng sama si Rehan, Idin dan Koko dibelakang kantin sekolah. Tapi bagusnya dia marahnya tidak seketika itu, tapi menunggu pas pulang sekolah.

"Damar nggak usah ngerokok-ngerokok deh! Cewek tuh paling nggak suka sama cowok yang suka ngerokok ya".

"Hehe, tapi kalau cowok yang ngerokok ganteng seperti aku? cewek-cewek tetep bisa nerima dong". Kataku membela diri.

"Iiihhh.. Narsis"

Meskipun waktu aku bilang aku ganteng itu Nawang nggak protes, bukan berarti kamu harus percaya kalau aku ganteng beneran. Aku biasa saja, nggak ganteng-ganteng amat dan nggak jelek-jelek juga. Jadi mulai sekarang stop berekspektasi kalau aku itu ganteng beneran. Diantara aku, Idin, Rehan dan Koko. Kurasa yang paling ganteng itu Koko, dia putih terus matanya sipit, keturunan cina dari ibunya. Kalau aku sama Rehan 50-50 lah, imbang. Nah yang paling parah menurutku si Idin, pemabuk dia. Pernah suatu hari waktu cintanya ditolak Lasmi, dia langsung bawa kunci motorku.

"Weh, mau kemana, Din?"

"Mau beli amer diwarung"

"Yaudah ati-ati dijalan. Mabuk boleh asal tetep sholat ya!"

Sebenernya aku mau larang dia untuk mabuk-mabukan, cuma ya, gimana? Aku tidak bisa menyembuhkan patah hatinya itu dengan petuah-petuah norak.

Oh, iya. Ngomong-ngomong aku kuliah disebuah Universitas swasta dikotaku. Bukan salah satu universitas yang terkenal, tapi tidak jelek juga. Jaraknya 30 menit dari rumahku, biasanya aku naik motor. Kalau jalan kaki mungkin lumayan capek ya. Aku ambil Fakultas Ekonomi - Perbankan. Bukan cita-citaku sih. Aku justru awalnya tidak mau kuliah, mau langsung berkerja saja. Tapi ibuku maunya aku kuliah dulu, ya sudah aku ambil jurusan yang paling realistis untuk otakku saja.

Aku tinggal dirumah sederhana, tidak besar, tapi tidak kecil juga. Aku dirumah bersama adikku. Adikku itu cowok juga, namanya Agil Aditama, dipanggilnya Agil. Sekarang sudah kelas 2 SMP, waktu masih kecil pernah aku goda, aku bilang kalau 'Agil' itu singkatan dari Anak Gila. Anehnya dia malah ketawa keras sambil lari-lari. Wkwkwk apa-apaan itu.

Aku dirumah ya cuma berdua, aku sama Agil. Ibuku dimana? Di Taiwan jadi TKW. Beneran. Ayah meninggal ketika aku baru berumur 6 tahun, Agil baru 1 tahun. Yang ditinggalkan ayah cuma rumah ini dan nama tengahku dan Agil. Oh, iya. Praktis keadaan finansial keluarga kami bergantung pada ibuku. Itulah kenapa tadi aku bilang ingin langsung berkerja saja daripada kuliah, ribet. Meski begitu aku tetap tidak ingin bergantung sepenuhnya, aku membuka jasa lukis wajah. Lumayan, buat tambah-tambahan.

Oiya, kalau kamu bertanya-tanya waktu sepulang dari pasar hewan aku beli 2 es gempol itu untuk siapa saja? Iya, itu untuk Agil dan tanteku yang biasa aku makan dirumahnya. Tante Lisa, adiknya ibuku, suaminya yang bernama om Yudha adalah seorang juru mudi kapal, pulangnya 3 bulan sekali. Dia baik, aku dan Agil kalau makan selalu dirumahnya. Kami sudah dianggap seperti anaknya sendiri. Selain Tante lisa juga punya anak sendiri, seumuran dengan Agil, namanya Fanny.

Tentu dengan bercerita seputar keluargaku, aku tidak berharap kamu jadi iba kepadaku. Sama sekali aku tidak berharap dikasihani. Aku hanya akan bercerita tentang betapa dicintai Nawang itu hebat sekali. Mari kita lanjut ke detik yang sekarang.

____________

Sepulang dari pasar hewan, malamnya ibu nelpon lewat whatsapp. Bilangin aku banyak-banyak, jangan lupa sholat, terus kuliah yang bener, suruh jaga adik yang baik. Terus aku jelasin juga kalau tadi siang aku habis beli kambing, biar dirumah jadi bagus kalau ada hewannya. Ibu ya tau maksudku, dia bilang tidak apa-apa asal aku bisa rawat kambingnya dengan baik. Selebihnya ibu mau bicara sama Agil, aku tidak tau persis yang mereka bicarakan. Paling-paling juga tidak jauh dengan yang dikatakan ibu kepadaku.

Setelah telepon ibu dimatikan, aku langsung bergegas ke teras untuk duduk sambil menghabiskan sebatang rokok. Pohon jambu depan rumah aku lihat sepertinya mulai gondrong oleh dedaunan, coba besok aku mau ambil beberapa untuk biar dimakan kambing lumping wkwkwk

Kriiiinggg...
Dilayar ponsel ada nama Nawang, profile picturenya itu foto dia sama aku setelah wisuda SMA. Nawang nelepon.


"Wa'alaikumsalam..."

"Assalamualaikum dulu, Damar"

"Iya, ada apa gerangan nonaku? Sudah selesai belajarnya?".

"Belum. Beri aku rayuan! Aku belum dirayu seharian tadi".

"Boleh Phone a friend, nggak?"

Phone a friend disini pasti merujuk pada acara kuis, who wants to be a millionare yang dahulu sekali pernah tayang disalah satu stasiun televisi swasta Indonesia. Dimana ketika peserta tidak bisa menjawab pertanyaan yang diajukan pembawa kuis, maka peserta diberi 3 pilihan bantuan, salah satunya ya phone a friend ini, dimana peserta diperbolehkan untuk bertanya kepada temannya melalui sambungan telepon.

"Nggak ada!"

"Rayuan yang kemarin boleh diulang lagi nggak?"

"Noob, nggak boleh!"

"Semenjak jadi pacarmu berat badanku turun 5 kilo cuma gara-gara keseringan mikirin kata-kata yang bikin kamu seneng. Lama-lama keterusan kayak gini, aku jadi sarap kayaknya wkwkwk".

"Cepetan!"

"Kalau jelek jangan diejek ya! Awas!".

"Pasti bagus kalau kamu yang bikin".

Hal semacam ini membuat aku senang sekaligus stres. Senangnya karena dia seperti nunggu-nunggu rayuanku, stresnya ya pasti gara-gara mikir bikin rayuan apalagi hari ini.

"Profil picture yang kamu pasang difacebook itu foto palsu, kan?"

"Asli lah, orang kamu juga tau itu aku real kok". Tepis nawang tidak terima.

"Ssstttt... Kenapa aku bilang palsu? Karena aku sudah ketemu orangnya, aslinya lebih cantik"

"Ooooohhh... Hahahaha bagus-bagus, ada lagi?"

"Bayarrr...."

"Pelittt..."

"Biarin... Weeekkk"

"Aaaahhh, Damaarr"

"Iya?"

"Gapapa"

"Ooohhh..."

"Kok oohhh?"

"Iya, aku sayang kamu"

"Hehehe. Aku juga"

"Juga apa?"

"Sayang kamu...."

"Oohhh..."

"Gitu aja terusss!!!"

"Yaudah aku mandi dulu"

"Yaudah aku mau mandi juga"

"Lah? Belum mandi?"

"Udah"

"Ya terus?"

"Mau ikut kamu"

"Lah? Jangan!"

"Tumben bilang jangan"

"Jangan kelamaan wkwkwk"

"Dasar cowok gilaaa".

Sepoi angin pukul 9 pagi memantrai daun pohon mangga yang menguning hingga jatuh ketanah. Dibawahnya tepat, mengepul asap rokok sisa hisapan tukang parkir yang sedang meluruskan sap motor-motor yang berjajar banyaknya. Aku menunggu diluar sambil membalik posisi topiku supaya tidak hanyut tertiup angin saat kutarik gas kencang-kencang.

"Hei, nggak bawa helm?" Katanya sambil setengah berteriak ke arahku.

"Nggak perlu, sejak semalam kamu bilang aku keras kepala, anehnya aku jadi percaya diri".

Sepertinya ia bingung dengan kata-kataku barusan. Tapi bahasa tubuhnya mengatakan 'yaudahlah iya aja'.

Meski jika dibuka rambutnya kelihatan bagus, tapi jujur saja aku lebih suka dia berdandan seperti sekarang ini, pakai hijab segi empat, dress sweater lengan panjang, skinny jeans, sepatu sneakers. Sederhana tapi tetap menawan.

"Mau kemana kita?" Katanya sambil memposisikan duduk yang pas supaya nyaman.

"Ke pasar hewan"

"Hah? Serius?"

"Iya, kan semalem ditelepon katanya mau ikut kemana aja asal nggak boring dirumah"

"Iya, sih. Tapi kalau tau mau ke pasar hewan kan aku nggak perlu pakai sepatu juga, ah kamu nih"

"Yah, habis kamu nggak nanya. Aku kalau hari minggu emang suka ke pasar hewan, lihat-lihat hewan"

"Ajak kemana kek, masak ke pasar hewan?"

"Udah ikut aja dulu, keburu kesiangan"

Tanpa ba-bi-bu aku langsung tancap gas karena memang kalau semakin siang harga hewan semakin mahal. Hal itu disebabkan kalau masih pagi biasanya yang menjual hewan adalah para peternak hewan itu sendiri, jadi harga hewan masih murah. Kalau sudah hampir siang seperti ini biasanya penjualnya adalah para bakul atau makelar yang membeli hewannya dari peternak. Tidak jarang juga makelar membeli hewan pagi-pagi untuk dijual kembali, praktek semacam ini biasanya disebut mbangkel.

Ngomong-ngomong, kita sudah bicara ngalor-ngidul, kamu sudah tau namaku belum? Emang belum, kan belum kenalan. Perkenalkan namaku Bima Adi Damar, dan yang ku bonceng dibelakang ini adalah Nawang Ariani, pacarku. Kalau siang boleh dipanggil ani, tapi kalau malam jangan dipanggil ari. Dia marah kalau dibercandain seperti itu. Padahal kalau dia lagi PMS manggil namaku sesuka-sukanya dia, kadang Bima, kadang Adi, kadang Damar, kadang bimbim, kadang lupa namaku siapa.

Setahun pacaran tidak ada kemajuan, kalau ketemuan pasti seperti itu prosesnya: dia bawa motor, aku bawa motor, kemudian motornya dititipin ke parkiran umum, terkadang juga motorku yang dititipin. Tergantung motor siapa yang ada bensinnya, setelah itu baru kita jalan.

Dia suka bilang,
"Aku ini cewek loh, harusnya kamu kerumahku dong jemput aku. Bukannya malah nyuruh aku bawa motor sendiri. Dasar! Cowok macam apa kamu" Gersahnya sambil sebel-sebel yang dibuat-buat.


Terkadang aku balas juga,
"Kamu juga gitu, nggak berani kerumahku. Harusnya saat rumahku lagi sepi, main-mainlah! Dasar! Cewek macam apa kamu".


Biasanya kalau aku seperti itu dia pasti langsung menoyor kepalaku, menjitak, memukul-mukul, mencubit dan masih banyak hal-hal brutal lain yang akan dia lampiaskan ke badanku seolah besok sudah tidak ada hari lagi untuk melampiaskan pukulan dan cubitan itu. Aku ya cuma tersenyum geli melihatnya begitu sambil mencaciku "Dasar kamu cowok gilaaaa....!!!"

Aku balas,
"Dasar kamu pacarnya cowok gila hihihi". Balasku sambil aku tertawa puas, dia juga.

Kenapa malah jadi kemana-mana ceritanya? Balik ke cerita awal. Aku dan Nawang sudah sampai parkiran pasar hewan. Seorang petugas parkir mendekat memberi nomor parkir, namanya Yanto, masih muda kira-kira 34 tahunan, bisa aku pastikan mas yanto ini baru saja habis sarapan, sebab masih tertempel jelas sebutir nasi disebelah kanan kumisnya yang lumayan jarang.

"Jangan dikunci stang mas!" Pinta mas Yanto si tukang parkir.

Tidak lama kemudian kami berdua masuk ke pasar melihat-lihat, kebetulan pasar sedang lumayan ramai. Banyak sekali bapak-bapak berhamburan membawa ayam jago. Aku tidak banyak tahu soal ayam jago, hanya saja waktu itu Rehan, teman sekolahku, pernah punya ayam jago jenis birma. Keistimewaannya gesit saat bertarung, bahkan kakinya bisa bergerak mundur ketika hendak diserang lawannya. Awalnya aku tidak percaya, mana ada ayam bisa mundur? Tapi setelah melihatnya sendiri aku baru percaya. Ya, mungkin cuma itu pengetahuan berharga yang aku punya seputar dunia ayam. Ada juga 1 jenis ayam lain yang aku tau, tapi sepertinya ini berbeda, ayam kentaki. sayap 4000, paha 5000 hohoho (tadinya mau ditulis ayam kampus, takut nggak sopan)

"Damar, aku mau lihat kelinci"

"Ayok!"

Nawang pernah punya kelinci saat dia masih SD, kelinci itu diberikan oleh pamannya tepat dihari ulang tahunnya yang ke 7. Dia sayang sekali dengan kelincinya itu, sampai-sampai kelinci itu dikasih nama. Namanya Dira, mungkin kalau cowok dikasih nama Sudiro. Tapi sayang sekali, waktu itu kelincinya mati dimakan tikus. Nawang nangis heboh sampai wajah manisnya jadi anyep. Baru mau diem pas ayahnya membelikan boneka barbie. Meski bagi kebanyakan cewek mungkin boneka barbie itu cantik dan manis, menurutku sebaliknya. Bukan, bukan jelek, tapi menakutkan, itu karena kepalanya yang bisa diputar kebelakang. Horor.

Dari sisi kiri tempat kami melihat-lihat kelinci, tiba-tiba ada sepasang anak kambing lucu berlarian kearahku dan Nawang. Tidak lama kemudian empunya anak kambing juga menghampiri kami.

"Berapaan ini pak?" Tanyaku soal harga sepasang anak kambing yang menghampiriku, ke bapak penjual.

"Cewek-cowok ini mas, ceweknya 500, cowoknya 900, kalo dibeli semua boleh 1,3 juta".

"Berapa bulan ini umurnya?" Tanyaku lagi ke bapak penjual sambil ku elus-elus kepala anak kambing tadi.

"4 bulan mas, sudah doyan dikasih makan apa aja" jawab bapak penjual.

Kata-kata si bapak yang 'doyan dikasih makan apa aja' bukan berarti kambing ini mau dikasih makan beling, yang makan beling kan kuda lumping. Kalau kambing si bapak doyan makan beling namanya pasti  diganti jadi kambing lumping wkwkwk

"Nggak boleh kurang itu pak?"

"Maaf mas, harga segitu sudah murah. Apalagi dengan kwalitas kambing yang super kayak gini. Coba aja deh masnya rawat kambing ini sampai 60 tahun, saya jamin kandangnya pasti rusak, nggak kuat".

"Hahaha bisa aja bapak, itu mah rusaknya dikarenakan emang usia kandangnya aja pak, lagian mana ada kandang kambing yang bisa bertahan sampai 60 tahun?".

"Hahaha tau aja masnya ini".

Dibelakang aku lihat Nawang cuma ketawa, mungkin karena obrolan barusan. Padahal kalau setiap minggu dia ke pasar hewan, dia pasti akan tau kalau guyonan semacam itu sudah lumrah dilontarkan para penjual hewan untuk lucu-lucuan semata.

"Yasudah, saya beli kambing bapak, tapi bapak harus doain pacar saya dulu".

"Ini pacarnya, mas?" Kata si bapak sambil menunjuk ke arah Nawang.

"Iya, pak"

"Doain apa dulu ini mas? Saya jarang sholat nggak bisa doa-doa".

"Doain supaya pacar saya lulus Ujian Nasionalnya nanti pak, doanya pakai bahasa Indonesia aja, Tuhan maha mendengar".

"Saya doakan semoga pacarnya mas lulus ujian nasional. Kasih amin mas!"

Aku dan Nawang,
"Amiinn.."


Aku lihat Nawang tertawa lagi, aku juga, bapaknya juga. Hari minggu yang cukup menyenangkan. Akhirnya aku dan Nawang pulang, sekarang sudah hampir jam 12 siang. Ditengah jalanan dibawah langit Juni yang tidak pasti, mau hujan tapi nyatanya nggak, seperti mau panas tapi mendung nanggung. Yang memberi kepastian hanya penjual es gempol pinggir jalan, yang kemudian aku dan Nawang duduk memesan dua gelas untuk melepas dahaga. Bukan hanya Sprite, ternyata tagline 'Nyatanya nyegerin' juga pas buat jargon es gempol yang aku minum ini kalau abangnya mau pakai.

Aku dan Nawang pulang dengan membawa 4 bungkus es gempol, 2 buat dibawa oleh-oleh Nawang, 2 nya lagi buat aku bawa pulang, Agil, adikku, pasti suka. Kambingnya tidak aku bawa serta, sebab sudah naik bentor. Tentu saja abang bentornya sudah aku kasih namaku dan alamat lengkap tetangga sebelah rumahku, biar kalau dia sampai dirumah tetanggaku abang bentornya bisa ditunjukkin dimana rumahku. Ribet ya? Biarin, itu pelajaran buat abang bentor bahwa hidup terkadang memang ribet.


Dia adalah lelaki kedua yang kamu ceritakan kepadaku setelah ayahmu. Seperti kepada ayahmu, kamu juga pernah jatuh hati padanya.  Katamu, dia baik, dia sopan, dulu. Sekarang tidak tau dia dimana. Oleh sebab aku menyayangimu, aku mendengarkan ceritamu sampai seusainya.

Menurutku kamu perempuan baik, tidak tau bagaimana menurut orang lain. Kamu pintar menyelipkan kode dibalik hikayat-hikayat yang mengalun. Aku yang tidak siap memecahkan, memilih untuk lebih baik kamu  berterus terang memintaku saja daripada aku tidak karuan menafsirkan teka-teki.

Bagaimana cara dia mengucapkan selamat pagi padamu? Apakah cukup mengirim pesan singkat atau datang membawa bunga?

Apa yang akan dia lakukan saat melihatmu gundah? Apakah cukup dengan membacakanmu dongeng sebelum tidur atau mengajakmu jalan-jalan dan makan diluar?

Seperti apa ekspresi wajahnya saat bertemu ibumu? Apakah wajahnya jadi memerah atau justru dengan percaya diri dia menghampiri ibumu untuk cipika-cipiki?

Aku seperti sedang berada disebuah ruang ujian yang gaduh, dimana semua soal yang ada adalah titik-titik tanpa tanda tanya. Tanpa deskripsi dan aba-aba, aku harus mengisi titik-titik itu dengan imajiku sendiri.

Ya, akhirnya aku memutuskan untuk berubah, demi menjadi yang kamu mau. Meski sebenarnya bukan itu yang aku mau, namun asal bisa membuat kamu senang, aku relakan.

Selang beberapa minggu kemudian, dia yang telah lama menghilang itu pada akhirnya datang kembali ke kehidupanmu. Aku benci karena tidak bisa menghentikan itu. Ku kira itu hanya sebuah kehadiran yang bukan membawa kepergian, pada awalnya. Namun, yang jelas setelah kejadian itu kamu justru memudar, menghilang tanpa kabar.

Yang aku tidak habis pikir adalah, semudah itu kepergian memporak-porandakan keyakinanku yang tadinya aku kira sekuat batu. Seseorang yang membimbingku untuk mengisi titik-titik itu kini telah menjerumuskanku ke dalam jurang tanpa dasar.

Aku tidak menyesal, untuk sebuah cerita yang apa mau dikata sudah terlanjur. Hanya saja jika kamu bisa mendengar, aku mau bilang "Terimakasih, untuk luka dan semuanya".


Yang baik dari kita sudah tidak bersama adalah, aku jadi mau berlatih sangat keras untuk lebih mengenal diriku sendiri, untuk lebih mendengar apa yang menjadi maunya hati.

Yang baik dari kita sudah tidak bersama adalah, aku bisa mengistirahatkan pikiranku, semua hal yang dulu aku hafal perlahan aku sudah mulai bisa untuk tidak mengingat-ingatnya.

Yang baik dari kita sudah tidak bersama adalah, aku jadi suka mengobrol dengan teman-teman, terlibat dibanyak aktifitas, banyak mendengar dan kadangkala juga didengar.

Yang baik dari kita sudah tidak bersama adalah, aku jadi lebih hati-hati, yang apa-apa harus dipikir panjang dulu sebelum dilakukan. Semua hal dikehidupanku jadi terasa lambat dengan disengaja supaya aku bisa menikmatinya.

Yang baik dari kita sudah tidak bersama adalah, aku tidak lagi suka menyalah-nyalahkan diriku sendiri. Hal-hal yang berjalan tidak sesuai inginku ku biarkan begitu saja seolah memang tidak dikehendaki sesuai apa yang aku mau.

Yang baik dari kita sudah tidak bersama adalah, aku jadi lebih menghargai kehadiran seseorang. Sebab tidak ada jaminan yang pasti untuk sebuah kepergian, sedang merelakan itu berat, butuh proses melelahkan berkali-kali.

Terlebih kali ini adalah kehadiranmu. Iya, kamu hadir lagi. Setelah kita sudah tidak bersama kamu hadir lagi. Sebrengsek apa aku sampai kamu datang dan pergi semau hati? Kamu pasti tau itu. Aku ya pasti luluh lagi.


Aku benci diriku sendiri.

Dulu aku mengenal jepang dengan nama negeri matahari terbit. Itu dulu waktu aku masih suka belajar sejarah. Negeri ini cukup unik dengan bunga sakuranya, aku bisa langsung jatuh cinta dengan jepang waktu pertama kali membaca sejarahnya. Kalau bahasa gaulnya mungkin love at the first sight.

Jauh sebelum mengenal One Piece, aku sudah lebih dulu jatuh cinta dengan cerita sejarah negeri ini, khususnya Oda Nobunaga. Aku sering membaca kisahnya bahkan sampai berulang-ulang. Dari situ aku mulai kepo dengan hal-hal berbau jepang. Geisha, Samurai, budayanya, kekayaan  alamnya, kultur dan bahkan aku juga menyukai prinsip ksatria yang di anut orang jepang. Dalam hati aku bicara pada diriku sendiri ; aku harus ke jepang suatu hari nanti.

Sebuah mimpi besar tentu butuh usaha yang tidak sedikit. Setelah lulus kuliah, aku mulai bekerja. Tidak terlalu semangat, biasa saja. Sebab aku tidak ingin merasa kecewa ketika berusaha terlalu keras tapi hasilnya tidak seperti ekspektasi yang aku bayangkan.

Di suatu hari aku pernah merasa sangat putus asa, itu adalah saat aku mengeluarkan beberapa uang untuk sesuatu yang apa mau dikata, yaudahlah. Memang resiko lahir di jawa, banyak sekali tradisi yang seolah mengaharuskan aku untuk mudah sekali mengeluarkan uang. Disitu aku merasa down, sepertinya jepang yang awalnya ada di depan mata, kini seperti seolah menghilang dari peta.

Suatu ketika nasib baik mempertemukanku dengan keberuntungan. Kamera Canon 1200D adalah keberuntungan itu. Kamera yang sudah setahun lalu aku beli itu aku tidak tau bagaimana mengambil keuntungan darinya, sampai terpikirkan olehku untuk menyewakan kamera itu ke orang-orang. Tanpa ekspektasi apapun dikepala, justru respon orang-orang sangat antusias. Aku senang tidak karuan seperti surat cinta yang lama menggantung kini menemui balas.

Aku mulai memprioritaskan untuk punya aset banyak terlebih dahulu, jepang bisa nanti. Hasilku menyewakan kamera aku kumpulkan sedikit demi sedikit, setelah aku rasa pas, langsung aku belikan lagi kamera di situs jual beli online di facebook. Aku masih ingat sekali, waktu itu armada keduaku adalah Canon 600D. Tidak puas disitu, aku mengulang langkah sebelumnya. Begitu terus sampai aku merasa sudah cukup.

Sudah saatnya menabung. Aset sudah banyak. Aku mulai menikmati hasil kerjaku, dimana saat itu datang tawaran dari temenku untuk ikut trip ke Gn. Bromo naik kereta api dari Stasiun Cepu. Aku iyakan tawaran itu, aku anggap perjalanan menuju Bromo seperti menyicil perjalanan ke Jepang. Sebab aku yakin, mimpi itu tidak serta merta datang secepat yang kita mau, akan tetapi step by step. Jika kamu mau mobil lamborgini, tidak ada salahnya jika kamu memulainya dengan punya gambarnya terlebih dahulu, kemudian tempelkan itu dikamarmu sebagai motivasi.

Sepulang dari Bromo rasa ingin tauku terhadap dunia luar semakin liar. Tidak mungkin hari ini aku paksakan untuk ke Jepang, sebab uangku mana cukup? Masih belum. Ke Jepang butuh visa dsb. Pasport saja hari itu aku belum punya, apalagi nanti harus mengajukan permohonan ke kedubes Jepang yang ada di Indonesia. Pasti memakan proses yang super lama.

Seorang teman yang lain datang padaku untuk bagaimana kalau kita jalan-jalan ke Malaysia-Thailand? Waktu itu aku kaget, tidak menyangka. Aneh saja, seperti sudah ada yang men-setting bahwa aku memang harus memuaskan rasa hausku akan dahaga keingintahuan terhadap dunia luar.

Tanpa pikir panjang langsung aku iya-kan saja. Besoknya aku langsung bikin pasport, kalau hanya untuk melancong ke negara-negara ASEAN kita tidak perlu visa. Sebelum akhirnya sebulan kemudian kami berangkat ke Malaysia-Thailand secara backpacker.

Meskipun bukan Jepang, tapi aku merasa ini sudah semakin dekat. Langkah kakiku semakin jauh dari rumah. Mulai terbiasa berkomunikasi dengan orang asing dengan bahasa inggrisku yang pas-pasan. Terkadang beberapa kali aku juga berbicara dengan gaya bahasa yang meng-impersonate Tarzan jika keterbatasan bahasa sudah mentok.

Aku senang sekali, bahagia itu yang mungkin tidak bisa aku bagi kepadamu. Bukan karena aku tidak ingin berbagi, tapi rasanya memang kalian harus kesana sendiri untuk tau letak kesenangannya. Apalagi jika itu dilakukan dengan bacpacker-an, sungguh pengalaman yang keren.

Mencari jalur paling ekonimis, bermukim di motel yang notabene satu room bisa memuat sampai 10 tempat tidur, yang mana kita bisa ketemu siapa saja di kamar itu. Memilah-milah transportasi paling murah, cari tempat makan halal dan kalau bisa murah juga. Kalian harus kesana sendiri. Malaysia dan Thailand adalah dua negara yang berbeda, jika di Malaysia mungkin bahasa Indonesia masih bisa dipakai, tapi di Thailand, jangan harap ada yang paham bahasa Indonesia.

But, seriously. Jika suatu hari kalian bener- bener kesana, tidak perlu khawatir. Pelancong dari Indonesia banyak banget disana. Jangan ragu untuk berkomunikasi dengan mereka.

Kok jadi ngelantur? Jadi kapan ke Jepangnya? I don't know. Aku ingin mengalir saja. Anehnya aku malah ingin keliling ASEAN. Masih ada Singapore yang belum disinggahi, Aku ingin ke Angkor Wat di Kamboja yang kalau aku rasa-rasa mungkin itu sebuah situs peninggalan semacam Borobudur. Vietnam, aku mau ke tempat keren berjuluk Da Nang (coba cari di google), itu yang dipake namaku jangan-jangan dulu ayahku terinspirasi dari tempat itu? Mungkin saja.

Sudah dulu. Aku sudah mengantuk. Sudah jam 4 pagi ketika aku menulis tulisan ini. Tapi aku ingin menutup tulisan ini dengan satu rayuan (aku lebih suka ini disebut rayuan daripada gombalan)

Sekarang aku sudah tidak percaya lagi Jepang adalah negeri matahari terbit. Sebab aku melihatnya sendiri, matahari itu terbit dari matamu #Halaahh...

Previous PostPostingan Lama Beranda